Kategori Merek

Kategori Merek Ada Bermacam-macam, Mulai Dari Produk-produk Bahan Kimia Hingga Jasa Hukum. Merek Sendiri Merupakan Identitas Berupa Nama, Tanda, Simbol, Logo, desain atau kombinasi di antaranya yang dipakai oleh perorangan, organisasi atau perusahaan pada produk (barang dan jasa) untuk membedakan dengan produk lainnya. Merek yang kuat biasanya terkenal di masyarakat, memiliki asosiasi merek yang tinggi terhadap suatu produk, persepsi positif dari pasar dan loyalitas konsumen pada merek tersebut. Telah disebutkan bahwa manfaat merek adalah membedakan antar produk satu dengan lainnya, itu bertujuan untuk memudahkan konsumen dalam menentukan produk pilihan berdasarkan pertimbangan-pertimbangan.

manfaat merek

Dari situ, timbullah kesetiaan mereka terhadap merek atau disebut dengan brand loyalty. Kesetiaan tersebut bisa dilihat dari pengenalan, pilihan dan kepatuhan mereka pada sebuah merek. Kategori merek dagang bisa dipahami dalam tiga hal, yakni nama brand, simbol dan karakter dagang. Untuk nama brand contohnya merek air mineral, jajanan, produk pembersih dan lainnya yang mungkin pernah Anda dengar. Kalau simbol, seperti gambar sayap pada merek kendaraan bermotor, kereta kuda pada produk makanan dan lainnya yang dijadikan logo. Sementara karakter dagang atau trade character biasanya digunakan untuk promosi produk, seperti burung dan kucing pada produk makanan yang sering ditampilkan di dalam iklannya.

Ada beragam jenis merek, yakni manufacturer brand dan private brand. Manufacturer brand atau sering disebut sebagai merek perusahaan merupakan merek yang dimiliki oleh perusahaan penghasil produk atau jasa. Sedangkan private brand atau merek pribadi merupakan merek yang dimiliki oleh pedagang maupun distributor dari produk atau jasa. Contoh private brand adalah minimarket atau supermarket yang menjual produk-produk tertentu, seperti tissue, air mineral, kapas dan sebagainya. Ada pula produk generik yaitu barang atau jasa yang dijual tanpa merek/identitas sebagai pembeda, baik dari pedagang maupun produsen. Contoh produk generik adalah sayuran, buah-buahan, tanaman, bunga, minyak goreng curah, abu gosok dan lainnya. Terdapat pula perbedaan produk berdasarkan kelas merek yang dibagi menjadi 45 kelas. Masing-masing kelas diisi dengan beragam produk, mulai dari bahan kimia, logam, bahan farmasi, perkakas, makanan, kendaraan dan masih banyak lagi.

Kategori merek

Kategori merek yang telah disebutkan dapat dipasarkan dengan brand strategies (strategi merek).

Baik produsen, distributor maupun pedagang pengecer bisa melakukan strategi pemasaran dengan cara individual branding atau family branding. Individual branding atau merek individu maksudnya memberi merek yang berbeda pada setiap produk baru. Misalnya, produsen sabun untuk mencuci pakaian menciptakan merek A dan merek B untuk membidik target pasar yang berbeda. Sedangkan family branding atau merek keluarga merupakan kebalikannya. Jadi, family branding maksudnya memberi merek yang sama pada semua atau beberapa produk untuk mendompleng merek yang telah terkenal di pasaran. Misalnya, produsen sabun A yang memasarkan produk dengan berbagai varian, seperti A-Body Foam, A-Anti Bakteri dan sebagainya.

Nah, jika membicarakan merek, pasti tak lepas dari brand equity atau kekuatan merek. Dalam menghadapi kompetisi yang sangat ketat, menurut Susanto dan Wijanarko merek adalah pembeda yang jelas, bernilai serta berkesinambungan. Merek menjadi ujung tombak daya saing perusahaan dan itu sangat membantu dalam strategi pemasaran. Keller mengatakan bahwa kekuatan merek merupakan keinginan seseorang untuk melanjutkan memakai merek tersebut atau tidak. Pengukuran kekuatan merek ini sangat berkaitan erat dengan kesetiaan konsumen. Ada banyak sekali pengertian brand equity, namun intinya adalah kekuatan suatu merek yang bisa menambah atau mengurangi nilai merek itu sendiri. Hal tersebut bisa diketahui dari respon konsumen terhadap produk atau jasa yang dijual berdasarkan kategori merek usaha.

mengurus izin merek

Soehadi berpendapat bahwa brand equity dapat diukur dari, leadership, yaitu kemampuan untuk mempengaruhi pasar (baik harga maupun non-harga), stability, yakni kemampuan untuk mempertahankan kesetiaan konsumen, market adalah kekuatan merek dalam meningkatkan kinerja distributor atau toko, internationality merupakan kemampuan merek untuk masuk ke daerah atau negara lain, trend, yakni merek atau brand menjadi semakin penting dalam dunia industri, support adalah total jumlah dana yang dikeluarkan oleh produsen untuk mengkomunikasikan merek dan protection yaitu suatu merek memiliki legalitas. Untuk yang terakhir bisa diperoleh apabila produsen mengurus izin merek pada lembaga terkait.

Susanto dan Wijanarko mengelompokkan brand equity ke dalam 5 kategori. Pertama, brand awareness yang memiliki pengertian kemampuan calon konsumen dalam mengenali atau mengingat bahwa suatu merek adalah bagian dari kategori merek tertentu. Brand awareness merupakan pengakuan sebuah merek dan pembedaannya dari yang lain. Jadi, brand awareness ialah kesanggupan konsumen dalam mengingat suatu merek dan menjadikannya berbeda dari merek lainnya. Terdapat 4 tingkatan brand awareness, yakni unaware of brand (tidak menyadari merek), brand recognition (pengenalan merek), brand recall (pengingatan kembali terhadap merek) dan top of mind (puncak pemikiran). Sementara untuk mengetahui seberapa jauh seorang konsumen menyadari merek bisa digunakan indikator recall, recognition, purchase (pembelian) dan consumption.

mengurus izin merek

Kedua, perceived quality adalah persepsi konsumen terhadap kelebihan atau kualitas suatu produk atau jasa. Ketiga, brand association merupakan hal-hal yang berhubungan dengan ingatan konsumen mengenai suatu produk atau jasa. Asosiasi merek ini tak hanya eksis, melainkan mempunyai tingkat kekuatan. Kesukaan terhadap merek akan lebih kuat jika dilandasi oleh banyaknya pengalaman untuk mengkomunikasikannya. Keempat, brand loyalty ialah kesetiaan konsumen pada sebuah merek. Brand loyalty sendiri memiliki beberapa tingkatan, yaitu konsumen tidak loyal atau tertarik dengan kategori merek yang ditawarkan. Umumnya, konsumen yang demikian suka berpindah-pindah merek karena mempertimbangkan harga dan sebagainya. Konsumen merasa puas dengan produk atau jasa yang digunakan. Konsumen yang seperti ini disebut habitual buyer (konsumen tipe kebiasaan) karena tidak ada dimensi kepuasan yang mendorongnya untuk berganti merek, terutama bila pergantian tersebut membutuhkan tambahan biaya. Konsumen yang puas, tapi memikul biaya peralihan atau switching cost, baik dalam hal uang, waktu atau hal-hal sehubungan dengan usaha untuk berganti ke merek lain.

Konsumen yang loyal ini disebut satisfied buyer. Konsumen benar-benar menyukai merek terkait. Rasa sukanya dilandari oleh asosiasi, seperti tanda/simbol, pengalaman dalam menggunakannya atau kesan terhadap kualitas yang tinggi. Tingkat yang paling atas dalam brand loyalty adalah konsumen yang setia. Konsumen ini biasanya mempunyai suatu kebanggaan karena menjadi pengguna suatu merek. Baginya, merek tersebut sangat penting, baik dari segi fungsi ataupun sebagai komitmen konsumen. Kelima, other proprietary brand assets ialah suatu hal yang tidak termasuk dalam kategori brand equity, tapi turut membangun kekuatan merek. Demikian ulasan mengenai kategori merek semoga bermanfaat.

    Chat WA