Tata Cara Pengajuan Hak Merek

Tata Cara Pengajuan Hak Merek , Keingintahuan Masyarakat menjadi Bukti Kesadaran Mereka Untuk Melindungi brand yang Akan Digunakan Untuk Berbisnis atau kepentingan lainnya. Perubahan yang terjadi dalam UU No. 20/2016 pun membantu Anda untuk memproses pendaftaran sekaligus melindungi merek dari kemungkinan-kemungkinan buruk seperti kesamaan dengan brand lain yang ternyata sudah eksis di pasaran. Regulasi pendaftaran merek ke Ditjen HKI sebenarnya tidak jauh berbeda dengan yang lain. Anda perlu mengisi formulir dengan data selengkap mungkin dan memenuhi syarat seperti dokumen penting yang akan membantu proses pengajuan.

Tata Cara Pengajuan Hak Merek

Selain itu, Anda juga akan melewati sejumlah tahap dan masa tunggu sampai sertifikat merek diterbitkan. Prosesnya sekilas menyulitkan, tetapi Anda akan mendapatkan hasil yang setimpal. Sayangnya, belum semua orang benar-benar paham akan tata cara pengajuan merek brand kepada Ditjen HKI. Beberapa pemohon sering kali membuat berbagai kesalahan yang malah memperumit proses pendaftaran. Dari sekian banyak kekeliruan yang dilakukan para pendaftar, setidaknya ada lima kesalahan yang paling sering dilakukan dan patut diwaspadai oleh Anda yang ingin mengajukan permohonan. Lantas, apa saja jenis kesalahan tersebut?

Kesatumerilis produk berupa jasa atau barang tanpa mendaftarkan merek, paten, atau desain industri ke Ditjen HKI. Di negara-negara yang mempunyai kesadaran HAKI yang tinggi, para pebisnis maupun inventor akan melakukan pengajuan permohonan pendaftaran dulu. Mengapa demikian? Karena ada proses penelusuran yang diterapkan untuk mengetahui apakah merek, paten, atau desain industri yang mereka ajukan sudah ada atau belum di pasaran. Bila belum ada, maka perlindungan pun dapat segera dimintakan sebelum ada pihak lain yang mengklaimnya.

Selain itu, permohonan sebelum produk dirilis pun akan mempersempit celah para pesaing yang ingin mengambil merek, karena hanya pihak internal saja yang tahu. Namun yang terjadi di lapangan kadang malah sebaliknya. Masih ada pebisnis maupun inventor yang dengan percaya dirinya merilis produk yang belum terdaftar. Jika ada pihak lain yang tahu, mereka mungkin tidak akan segan untuk didaftarkan kepada Ditjen HKI. Asas first to file—siapa yang lebih dulu mengajukan, dia yang akan terdaftar—akan mempersulit Anda yang ingin melaporkan tindakan si pencuri tadi.

Tata Cara Pengajuan Hak brand

Kesalahan kedua yang masih dilakukan para pendaftar dalam tata cara pengajuan hak

merek adalah mengembangkan bisnis dan merek tanpa menelusuri dan mendaftarkannya. Poin ini masih berkaitan dengan poin sebelumnya dan bakal terasa amat fatal kalau brand yang dipakai merupakan merek utama. Beberapa kasus yang muncul dari kesalahan ini biasanya dialami pemilik gerai makanan yang tempatnya berada di mal alih-alih foodcourt. Sayangnya, dia belum mengajukan permohonan pendaftaran dan baru akan melakukannya setelah bertahun-tahun mengembangkan bisnis tersebut.

Situasi akan memburuk kalau di tahap penelusuran ternyata merek yang dia pakai ternyata sudah terdaftar atas nama orang atau perusahaan lain. Jika sudah begini, akan sulit baginya untuk menjalani tata cara pengajuan hak merek dangan. Meski begitu, bukan berarti kasus-kasus ini tidak mempunyai solusi. Setidaknya ada dua penyelesaian yang dapat dilakukan. Satu, mengganti merek tersebut dengan nama yang baru. Pasalnya, pemilik merek yang sah memiliki hak monopoli atas pemakaian brand tersebut seutuhnya. Dua, lakukan pengajuan gugatan untuk membatalkan merek atas dasar itikad baik. Cara terakhir mungkin akan memakan waktu yang cukup lama, melelahkan, dan tak jarang menguras dompet. Apalagi untuk pengusaha kecil yang cah flow-nya tidak selalu berjalan mulus.

Ketigamenganggap biaya yang dikeluarkan untuk proses pendaftaran sebagai dana tidak jelas. Seperti yang telah disinggung, mendaftarkan merek atau brand dagang memang bukan perkara mudah karena tidak sedikit waktu, tenaga, serta biaya yang dikeluarkan. Sayangnya, sebagian pebisnis baru masih mengira kalau bujet yang harus mereka siapkan seperti hal sia-sia dan tidak sebanding dengan pengorbanan yang mereka lakukan. Padahal, kalau dilihat dari sisi positifnya, biaya tersebut dapat menjadi investasi jangka panjang mengingat HAKI bisa diperjualbelikan kepada pihak-pihak lain dan mempunyai nilai ekonomis. Di sisi lain, tinggi rendahnya nilai ekonomis tadi sangat tergantung dari cara mengembangkan HAKI yang dilakukan oleh sang pemilik.

Kemudian, menganggap kalau gagasan atau invesinya belum pernah ada di dunia menjadi kesalahan keempat yang terjadi dalam tata cara pengajuan hak merek. Tidak sedikit pebisnis maupun investor yang mempunyai anggapan tersebut. Padahal, tidak ada ide yang benar-benar baru di dunia ini dan ada lebih banyak orang-orang cerdas yang mampu mengembangkannya menjadi sesuatu yang berbeda serta menarik.

Cara Pengajuan Hak Merek

Jika anggapan ini masih dipegang, mereka akan mendapatkan kekecewaan begitu mengetahui ada orang lain yang sudah memakai gagasan yang selama ini dianggap belum ada di dunia. Hal inilah yang membuat penelusuran begitu penting dalam tata cara pengajuan hak brand karena bertujuan untuk menghindari kesamaan dengan merek yang sudah ada.

Kesalahan kelima mungkin cukup parah, sebab sebagian pendaftar ada yang nekat meniru merek terkenal yang sudah ada. Motif yang melatarbelakangi tindakan tersebut beragam; mulai dari benar-benar tidak tahu hingga sengaja ingin mengikuti merek tadi. Kekeliruan ini—baik dilakukan secara sengaja atau tidak—sangat dilarang karena akan mempengaruhi brand yang akan digunakan. Jika sampai ketahuan saat Anda sudah memasarkannya, akan ada tuduhan plagiator yang menyerang Anda. Maka, sebelum hal-hal buruk terjadi, hindari lima kesalahan tadi. Anda yang membutuhkan panduan atau konsultasi dapat berdiskusi dengan pihak Ditjen HAKI.

    Chat WA